Berbahagialah.

Akan selalu ada alasan dibalik pergi dan kembalinya seseorang. Aku tahu, bahwa datangnya kamu tidak akan lama, seperti yang sudah-sudah kamu datang hanya untuk singgah. Aku sudah memastikan diri bahwa aku akan baik-baik saja setelah perginya kamu, namun lagi-lagi aku kalah. Aku kira aku akan siap dengan apapun yang akan terjadi, tapi aku salah, ternyata hatiku belum sepenuhnya kuat dengan kenyataan yang lagi-lagi membuatku muak.

Aku tidak pernah menyalahkan waktu yang membawamu kepadaku, tidak pula menyalahkan rasa yang dengan lancangnya kembali bersuara tanpa aku minta meski sudah berkali-kali dibuat kecewa. Aku hanya menyayangkan dengan segala sesuatu yang terjadi, jika kembalinya kamu hanya untuk pergi lagi.

Kenyataan memaksaku untuk menerima, bahwa kita sudah beda rasa. Ada yang hilang meski sebenarnya tak pernah ada. Kini aku sadar, ternyata tangan yang saat itu aku genggam sudah bukan miliku lagi, bahu yang saat itu tempat aku bersadar sudah bukan untukku lagi.

Meski tak lama, kita pernah saling meski kini kembali asing. Sudah tidak ada lagi cerita diantara kita, aku harap kali ini bernar-benar selesai. Aku sudah sangat lelah, selalu datang pergi tanpa pernah mau berhenti.

Kini aku hanya berlu berdamai dengan keadaan dan diriku sendiri. Ada rasa yang harus aku bunuh paksa, hingga akhirnya aku terbiasa meski sering kali aku gagal dengan segala rindu yang datang tanpa diundang, dan dengan lancangnya berharap kamu untuk tetap tinggal.

Saat ini, mari sibukkan diri dengan hal baik, segala tentangmu biar jadi kenangan untukku. Aku tak akan memaksakan diri untuk melupakanmu, biarkan waktu yang menyembuhkan segala luka hingga saatnya aku bisa kembali bahagia.

Aku ucapkan terima kasih untuk segala cerita indah yang pernah ada. Kini kita sudah berada dijalan dan tujuan yang berbeda. Mari kita saling mendoakan yang terbaik, doaku untukmu; berbahagialah meski tanpa diriku.

Komentar