Aku pernah sangat teramat mencintai seseorang. Tapi aku juga pernah sangat teramat sakit, dengan orang yang sama. Kamu datang seolah kamu tidak akan pernah pergi, tapi kenyataannya berbeda. Kamu datang dengan salam, namun kamu pergi tanpa pamit. Tidak sopan.
Aku pernah berpikir untuk menutup diri untuk siapapun, membangun benteng setinggi mungkin. Aku tidak ingin sakit untuk kesekian kali. Jadi, tidak salah bukan jika aku melindungi diriku sendiri? Namun lagi-lagi aku gagal, aku gagal melindungi diriku sendiri dengan datangnya kamu. Perlahan benteng itu mulai goyah dan...akhirnya hancur. Dan saat itu aku mengizinkan kamu untuk masuk, mengizinkan hatiku untuk tersakiti. Lagi.
Kamu datang dengan membawa kehangatan, membawa kebahagiaan setiap harinya sampai pada akhirnya aku berpikir bahwa kamu memang datang untuk menetap, bukan untuk singgah. Kamu membuat aku merasa seperti aku adalah wanita teristimewa, wanita paling bahagia dengan adanya kamu dihidupku. Sejak saat itu aku mulai berpikir bahwa kamu berbeda. Kamu bukan mereka yang pernah datang untuk pergi.
Hingga pada akhirnya, hari itu datang.
Hari dimana kamu mengahancurkan semua kepercayaan yang telah aku berikan. Menghancurkan semua pikiran-pikiran tentang kamu.
Kamu membuat aku berpikir bahwa kamu berbeda. Namun justru kamu juga yang membuat aku berpikir bahwa ternyata kamu sama saja seperti mereka. Mereka yang hanya datang untuk pergi. Mereka yang hanya datang untuk meninggalkan luka.
Kamu memang pernah memberi kebahagiaan, tapi kebahagiaan itu tidak sebanding dengan luka yang telah kamu berikan. Jika memang akan seperti ini. Jangan pernah berjanji seolah kamu akan tetap tinggal, jika akhirnya kamu akan pergi juga.
Pada akhirnya aku kalah lagi, aku menyakiti diriku sendiri lagi. Aku yang telah memberi izin mereka untuk menyakitiku lagi.
Aku pernah berpikir untuk menutup diri untuk siapapun, membangun benteng setinggi mungkin. Aku tidak ingin sakit untuk kesekian kali. Jadi, tidak salah bukan jika aku melindungi diriku sendiri? Namun lagi-lagi aku gagal, aku gagal melindungi diriku sendiri dengan datangnya kamu. Perlahan benteng itu mulai goyah dan...akhirnya hancur. Dan saat itu aku mengizinkan kamu untuk masuk, mengizinkan hatiku untuk tersakiti. Lagi.
Kamu datang dengan membawa kehangatan, membawa kebahagiaan setiap harinya sampai pada akhirnya aku berpikir bahwa kamu memang datang untuk menetap, bukan untuk singgah. Kamu membuat aku merasa seperti aku adalah wanita teristimewa, wanita paling bahagia dengan adanya kamu dihidupku. Sejak saat itu aku mulai berpikir bahwa kamu berbeda. Kamu bukan mereka yang pernah datang untuk pergi.
Hingga pada akhirnya, hari itu datang.
Hari dimana kamu mengahancurkan semua kepercayaan yang telah aku berikan. Menghancurkan semua pikiran-pikiran tentang kamu.
Kamu membuat aku berpikir bahwa kamu berbeda. Namun justru kamu juga yang membuat aku berpikir bahwa ternyata kamu sama saja seperti mereka. Mereka yang hanya datang untuk pergi. Mereka yang hanya datang untuk meninggalkan luka.
Kamu memang pernah memberi kebahagiaan, tapi kebahagiaan itu tidak sebanding dengan luka yang telah kamu berikan. Jika memang akan seperti ini. Jangan pernah berjanji seolah kamu akan tetap tinggal, jika akhirnya kamu akan pergi juga.
Pada akhirnya aku kalah lagi, aku menyakiti diriku sendiri lagi. Aku yang telah memberi izin mereka untuk menyakitiku lagi.
Komentar
Posting Komentar