Semesta, mengapa rasa sakit itu harus ada dan terasa nyata? Tidak bisakah kau hadirkan kebahagian tanpa harus ada kesedihan? Tidak bisakah kau hadirkan pertemuan tanpa harus ada sebuah perpisahan?
Katanya hubungan jarak jauh itu menantang, sebab kita bisa merasakan rindu yang sebenar-benarnya. Katanya setiap pertemuan dengan ia akan selalu terasa menegangkan dan menyenangkan secara bersamaan. Baiklah aku tidak sepenuhnya tidak setuju dengan semua itu. Namun aku tidak setuju dengan orang-orang yang mengatakan jika rindu itu indah, masa sih? Indah dari mananya? Dari sudut pandang mana mereka mengatakan rindu itu indah? Sebab rindu tidak akan pernah indah jika hanya dirasakan seorang diri, tidak akan pernah.
Kamu selalu mengatakan bahwa kamu akan menjadikan aku pemenang dari setiap tantangan, kamu juga mengatakan bahwa jarak hanyalah hal kecil untuk kita. Kita pasti bisa melawatinya. Pada akhirnya kamu yang membuatku kalah. Semua kebohongamu yang membuatku harus menyerah. Ketika aku percaya sepenuhnya kepadamu, ketika aku bersedia dengan ikhlas menunggumu. Tapi kamu malah menghadapkan aku pada kenyataan pahit, sangat pahit sekali.
Kukira aku akan menang melawan jarak, kukira semua akan baik-baik saja selama kita saling menjaga, ternyata tidak semudah itu. Setiap harinya aku mengerti kembalinya kamu hanya mendatangkan perpisahan, lagi.
Kamu tahu? Kenyataan pahit itu membuat otakku seperti berhenti berfungsi, tubuhku terasa kaku, waktu seperti berhenti berputar pada porosnya. Ada sesuatu yang tak kutahu namanya, namun rasanya sangat nyata, pedih dan menyakitkan. Beberapa kali aku bertanya pada diri sendiri, ini bercanda bukan? Ini hanya leluconkan? Ini tidak benarkan? Tapi kenyataan tidak memberiku jawaban yang kuinginkan. Semua memang benar adanya. Aku kalah, oleh dia.
Aku tahu aku terlalu egois jika aku hanya menyalahkan dia, dia tidak sepenuhnya bersalah. Hanya saja kamu yang tidak cukup bersyukur dengan adanya aku, kamu merasa kurang. Karna memang sudah sifat manusia bukan tidak akan pernah merasa cukup?
Apa memang harus pergi dulu agar kamu sadar bahwa tak selamanya aku bisa sabar? Kamu bilang padaku saat ini kamu sedang membuktikan pada diri sendiri bahwa kamu bisa memperbaiki diri dan bisa aku percaya lagi. Lantas mengapa tidak pas aku masih ada kamu memperbaiki? Mengapa dulu kepercayaanku kamu hancurkan berkali-kali jika saat ini kamu ingin membuktikan padaku bahwa kamu bisa dipercaya lagi? Mengapa?
Semesta, apa yang harus aku lakukan jika hati dan keinginan tak pernah sejalan? Sungguh aku seperti manusia yang tak tahu arah tujuan, manusia yang tak memiliki pegangan, sungguh aku kebingungan. Aku harus bagaimana semesta? Aku harus kemana untuk menemukan jawaban dari setiap pertanyaanku? Aku tidak tahu harus apa, aku tidak tahu harus kemana, yang aku inginkan saat ini hanya pergi, pergi yang jauh, sangat jauh. Dan berharap sekembalinya aku semua akan kembali seperti semula. Namun rasanya itu mustahil.
Aku berusaha meyakinkan diri bahwa semua akan kembali seperti sedia kala. Aku percaya aku bisa melanjutkan hidup seperti sebelum adanya kamu, tapi aku tidak bisa. Kali ini hati dan otakku tak bisa diajak bekerja sama. Semua tak seperti yang aku harapkan.
Tidak ada yang baik-baik saja setelah perpisahan. Ketika hati masih saling menginginkan, namun tidak diizinkan oleh keadaan. Aku hanya perlu merelakan bukan? Aku harap hidupku akan baik-baik saja tanpa kamu. Aku ingin duniaku kembali seperti dulu. Meski aku rasa akan sulit. Tapi aku percaya, aku pati bisa melewatinya.
Saat ini aku hanya fokus memulihkan hati dengan memperbaiki diri, mengobati sepi dengan menyibukan diri sendiri, salah jika kebanyakan orang mengatakan jika obat patah hati adalah mencari pengganti. Aku tidak setuju. Aku juga tidak ingin terlihat terlalu meratapi sepi. Hidupku masih harus berjalan;meski tanpa adanya kamu. Dan kamu akan semakin besar kepala jika selalu aku jadikan alasan dibalik kesedihanku. Cukup, aku rasa semua sudah cukup. Terima kasih untuk luka yang kamu berikan, aku yakin aku akan sembuh. Semesta tolong bantu aku.
Katanya hubungan jarak jauh itu menantang, sebab kita bisa merasakan rindu yang sebenar-benarnya. Katanya setiap pertemuan dengan ia akan selalu terasa menegangkan dan menyenangkan secara bersamaan. Baiklah aku tidak sepenuhnya tidak setuju dengan semua itu. Namun aku tidak setuju dengan orang-orang yang mengatakan jika rindu itu indah, masa sih? Indah dari mananya? Dari sudut pandang mana mereka mengatakan rindu itu indah? Sebab rindu tidak akan pernah indah jika hanya dirasakan seorang diri, tidak akan pernah.
Kamu selalu mengatakan bahwa kamu akan menjadikan aku pemenang dari setiap tantangan, kamu juga mengatakan bahwa jarak hanyalah hal kecil untuk kita. Kita pasti bisa melawatinya. Pada akhirnya kamu yang membuatku kalah. Semua kebohongamu yang membuatku harus menyerah. Ketika aku percaya sepenuhnya kepadamu, ketika aku bersedia dengan ikhlas menunggumu. Tapi kamu malah menghadapkan aku pada kenyataan pahit, sangat pahit sekali.
Kukira aku akan menang melawan jarak, kukira semua akan baik-baik saja selama kita saling menjaga, ternyata tidak semudah itu. Setiap harinya aku mengerti kembalinya kamu hanya mendatangkan perpisahan, lagi.
Kamu tahu? Kenyataan pahit itu membuat otakku seperti berhenti berfungsi, tubuhku terasa kaku, waktu seperti berhenti berputar pada porosnya. Ada sesuatu yang tak kutahu namanya, namun rasanya sangat nyata, pedih dan menyakitkan. Beberapa kali aku bertanya pada diri sendiri, ini bercanda bukan? Ini hanya leluconkan? Ini tidak benarkan? Tapi kenyataan tidak memberiku jawaban yang kuinginkan. Semua memang benar adanya. Aku kalah, oleh dia.
Aku tahu aku terlalu egois jika aku hanya menyalahkan dia, dia tidak sepenuhnya bersalah. Hanya saja kamu yang tidak cukup bersyukur dengan adanya aku, kamu merasa kurang. Karna memang sudah sifat manusia bukan tidak akan pernah merasa cukup?
Apa memang harus pergi dulu agar kamu sadar bahwa tak selamanya aku bisa sabar? Kamu bilang padaku saat ini kamu sedang membuktikan pada diri sendiri bahwa kamu bisa memperbaiki diri dan bisa aku percaya lagi. Lantas mengapa tidak pas aku masih ada kamu memperbaiki? Mengapa dulu kepercayaanku kamu hancurkan berkali-kali jika saat ini kamu ingin membuktikan padaku bahwa kamu bisa dipercaya lagi? Mengapa?
Semesta, apa yang harus aku lakukan jika hati dan keinginan tak pernah sejalan? Sungguh aku seperti manusia yang tak tahu arah tujuan, manusia yang tak memiliki pegangan, sungguh aku kebingungan. Aku harus bagaimana semesta? Aku harus kemana untuk menemukan jawaban dari setiap pertanyaanku? Aku tidak tahu harus apa, aku tidak tahu harus kemana, yang aku inginkan saat ini hanya pergi, pergi yang jauh, sangat jauh. Dan berharap sekembalinya aku semua akan kembali seperti semula. Namun rasanya itu mustahil.
Aku berusaha meyakinkan diri bahwa semua akan kembali seperti sedia kala. Aku percaya aku bisa melanjutkan hidup seperti sebelum adanya kamu, tapi aku tidak bisa. Kali ini hati dan otakku tak bisa diajak bekerja sama. Semua tak seperti yang aku harapkan.
Tidak ada yang baik-baik saja setelah perpisahan. Ketika hati masih saling menginginkan, namun tidak diizinkan oleh keadaan. Aku hanya perlu merelakan bukan? Aku harap hidupku akan baik-baik saja tanpa kamu. Aku ingin duniaku kembali seperti dulu. Meski aku rasa akan sulit. Tapi aku percaya, aku pati bisa melewatinya.
Saat ini aku hanya fokus memulihkan hati dengan memperbaiki diri, mengobati sepi dengan menyibukan diri sendiri, salah jika kebanyakan orang mengatakan jika obat patah hati adalah mencari pengganti. Aku tidak setuju. Aku juga tidak ingin terlihat terlalu meratapi sepi. Hidupku masih harus berjalan;meski tanpa adanya kamu. Dan kamu akan semakin besar kepala jika selalu aku jadikan alasan dibalik kesedihanku. Cukup, aku rasa semua sudah cukup. Terima kasih untuk luka yang kamu berikan, aku yakin aku akan sembuh. Semesta tolong bantu aku.
Komentar
Posting Komentar