Takdir?

Kata orang tidak ada yang namanya kebetulan, mereka menyebutnya sebagai takdir yang memang sudah ditentukan. Entah, rasanya masih belum percaya saja jika memang yang terjadi adalah sebuah takdir.

Dua tahun lebih bukan waktu yang singkat untuk sekedar melupakan. Bahkan itu terbilang waktu yang cukup lama. Selama dua tahun aku mencoba membuka hati, selama dua tahun pula aku telah mematahkan beberapa hati. Untuk memulai sebuah hubungan yang sudah lama tidak aku lakukan, rasanya aneh, hambar. Aku seperti mati rasa.

Dengan datang dan perginya kamu selama dua tahun terakhir sangat memuakan. Bahkan aku benci dengan segala sesuatu yang berhubungan denganmu. Bahkan aku menulikan kuping dari segala berita tentangmu. Perihal kamu mempunyai pasangan baru bahkan setelah sebelumnya kamu memintaku kembali. Rasanya aku tak ingin perduli lagi. Aku muak, sungguh.

Yang ada dalam pikiranku saat itu; aku tidak ingin mendengar lagi kabar tentangmu. Apapun itu. Selamanya.

Tidak ada yang sesuai harapan, semuanya melenceng begitu saja. Harapan hanyalah harapan. Kenyataannya kamu terus saja kembali dengan tanpa permisi. Pikirku aku tidak ingin menjadi egois dengan terus membenci. Kupikir aku sudah cukup dewasa dengan memberi kesempatan pada diriku untuk tidak lagi membencimu. Namun aku salah. Dengan lancangnya kamu terus mencoba masuk kembali dalam hidupku, lagi. Dengan tidak sopannya kamu membuatku memikirkanmu tanpa henti. Saat itu, aku sangat membenci diriku sendiri yang tak bisa menahan diri.

Dari awal aku hanya menganggap datangmu sekedar basa-basi. Ternyata tidak. Entah aku yang gagal untuk menghindar atau memang kamu yang selalu menang. Aku tak tahu. Yang jelas kamu selalu bisa mencari celah disetiap kesempatan, bahkan kamu selalu bisa masuk kedalam hidupku tanpa hambatan. Yang tak bisa dilakukan oleh siapapun. Kamu selalu jadi pemenang dari setiap pertarungan. Selamat, kamu berhasil kembali. Aku harap aku tidak salah dalam mengambil langkah kali ini.

Jika memang semua yang terjadi adalah takdir, aku harap ini takdir baik. Serius, saat ini aku sudah tidak ingin main-main. Jangan mengacam untuk pergi lagi, aku lemah dalam hal mempertahankan. Cukup sekali saja aku kehilangan, setelah ini aku tidak ingin lagi memberi kesempatan. Tolong, kali ini aku tak ingin kalah, aku ingin menang;bersamamu.

Komentar