(Jatuh) Cinta

(Jatuh) Cinta.

Aku yang selalu jatuh saat mengenal cinta. Bagiku saat mendengar tentang Cinta rasanya memuakan. Hal manis yang dulu kamu katakan, sekarang sudah tidak ada artinya bagiku. Semua hanya omong kosong. Seperti balon, tak berisi, hanya angin.

Sudah tak terhitung berapa kepercayaanku yang telah kamu hancurkan. Bagiku kepercayaan adalah kunci utama dari sebuah hubungan. Namun lagi-lagi kepercayaan itu kamu hancurkan begitu saja. Seakan semua itu hanya angin lewat bagimu dan tak berarti apapun. Entah kamu yang tak tahu arti dari kepercayaan itu sendiri, atau memang hanya aku yang terlalu bodoh dengan gampangnya memberi kepercayaan itu kepadamu.

Kukira sejak awal kita punya satu tujuan. Tujuan dimana kita akan menjadi tempat pulang kemana pun perginya kita. Kukira kamu akan menggenggam tanganku dan berjalan bersama. Namun yang kamu lakukan malah sebaliknya. Kamu melepaskan genggaman itu dan memintaku berjalan seorang diri. Kukira kita akan saling mempertahankan dan menjaga. Namun lagi-lagi hanya aku yang mati-matian mempertahankan semuanya. Aku yang terus mencoba membangun semua yang telah kamu hancurkan agar kembali menjadi untuh, namun justru kamu malah lebih pandai lagi untuk menghancurkan segala usahaku.

Hari itu kamu melangkah memunggung. Jauh sudah kamu meninggalkanku. Kamu memilih tiada saat kita tidak bisa saling jaga. Aku yang memang lemah dalam hal mempertahankanmu dan kamu yang tak pernah sekuat hati untuk memilikiku. Hari itu telah usai. Semua kepercayaan yang aku beri benar-benar telah hancur tak tersisa. Bukan aku yang memililh menyerah atas segalanya, justru kamu yang memilih pergi untuk menyelesaikan semuanya. Mungkin bagimu pergi adalah hal paling mudah yang bisa kamu lakukan. Atau mungkin bagimu dengan pergi akan menyelesaikan segalanya. Kamu, selalu seperti itu. Melakukan hal yang tak pernah sedikit pun memikirkan perasaanku. Yang kamu pikirkan hanya dirimu sendiri.

Kepergian selalu menyisakan kesedihan. Sedih yang berkepanjangan. Segala macam rindu selalu menyerangku, tapi rindu ini harus segera aku selesaikan. Merelakanmu memang bukan hal mudah. Namun aku ingin segera pulih. Aku yang harus bisa terbiasa tanpamu. Sama halnya denganmu yang baik-baik saja dengan tanpa adanya aku. Andai hal itu bisa dengan gampang aku lakukan, mungkin aku tidak akan tersiksa terlalu lama.

Mungkin untuk saat ini aku tidak ingin memulai sesuatu yang akan menyakiti diriku sendiri. Bukan tidak ingin, namun aku takut. Takut dengan kenyataan bahwa sesuatu yang aku mulai kembali mungkin akan lebih menyakitkan lagi nantinya. Lukaku tak bisa dengan mudah aku sembuhkan. Jadi bagaimana bisa aku memulai sesuatu yang akhirnya akan meninggalkan luka baru?

Komentar