Aku Pergi

Bagaimana bisa aku membencimu, sementara dulu aku menjatuhkan hatiku padamu. Aku ingin melakukan hal yang sama yang kamu lakukan;pergi sesukamu tanpa memperdulikan aku. Namun aku selalu gagal, hatiku menolak untuk pergi.

Berdebat dengan diri sendiri bukan hal mudah bagiku. Saat mulutku berkata "berhenti" maka hatiku berteriak untuk "bertahan". Aku lelah, sungguh. Berjuang, mempertahankan, bukan hal mudah yang bisa aku lakukan, terlebih aku melakukannya sendirian. Andai mudah membencimu, pasti sudah aku lakukan saat kamu memilih berlalu. Namun perasaanku tak bisa sepenuhnya aku kendalikan.

Percayalah, bukan sepenuhnya keinginanku untuk pergi, aku juga ingin terus bersamamu jika saja kamu juga menginginkannya. Namun sepertinya hanya aku yang menginginkan itu, tidak dengan dirimu. Lalu untuk apa aku bertahaan jika kamu ingin aku berlalu. Memang tidak secara langsung kamu memintaku untuk pergi, tetapi sikapmu yang membuatku sadar bahwa kamu memang tidak menginginkan aku ada.

Saat aku memilih pergi, tapi tetap saja rasa itu belum benar-benar bisa pergi. Kamu tau rasanya terpaksa mengakhiri saat dipuncak rasanya sangat mencintai seseorang? Itu sulit bahkan menyakitkan. Namun jika aku terus bertahan itu juga sama menyakitkannya. Aku ingin benar-benar melepasmu, terlepas dari segala tentangmu. Aku juga ingin bahagia sama seperti yang kamu lakukan dengan atau tanpa diriku, jadi tolong beritahu aku bagaimana cara melakukannya. Aku tidak ingin terjebak dengan keadaan seperti ini terus. Aku ingin keluar dari zona tidak menyenangkan ini, aku ingin bebas menjalani hidup tanpa harus ada kamu didalamnya.

Bahkan kamu telah jauh meninggalkanku dan disini aku masih saja berdebat dengan diri sendiri bagaimana cara aku bisa melepasmu. Menyedihkan bukan? Jika aku tahu akan sesakit ini, mungkin dulu aku tidak ingin memulainya. Terlebih aku adalah orang pertama yang mempunyai perasaan itu, dan akhirnya aku juga orang pertama yang memilih untuk pergi.

Ada saat dimana aku merasa aku hanya butuh diriku sendiri. Memeluk diriku sendiri. Menenangkan kegelisanku sendiri. Aku hanya butuh kekuatan untuk menguatkan diriku sendiri, menahan diri agar tidak mengingat segala sesuatu tentang dirimu. Aku benci saat aku merindukanmu. Kadang itu membuatku kembali ragu untuk melepasmu.

Kini aku hanya perlu berdamai dengan diriku sendiri. Berdamai dengan kekecewaan yang berasal dari diriku sendiri. Aku hanya berharap keputusan yang aku ambil kini tidak akan membuatku menyesal nantinya. Melepasmu apa harus sesulit ini?

Mungkin saat ini kita tidak saling melupakan, hanya saja kita sedang membiasakan diri menjadi dua orang asing kembali. Membiasakan diri dengan kehidupan jauh sebelum kita saling mengenal. Itu lebih baik bukan, karna dengan begitu kita tidak punya alasan untuk saling kembali. Terutama aku.

Pada akhirnya semua akan menjadi biasa. Kamu bahagia bersamanya, dan aku merawat lukaku yang kau tinggalkan begitu saja. Aku akan mununggu waktu dimana aku akan bisa bahagia tanpamu hingga aku lupa bagaimana cara menangis karenamu. Terimakasih, untuk segalanya. Bahkan untuk sesuatu yang harus berakhir meski belum sempat kita mulai.

Komentar