Terima Kasih

Malam ini pukul 22:19 Aku meneteskan beberapa air mata lewat pipiku, jatuh ke dagu dan terus seperti itu, awalnya biasa saja aku pun menikmati saat air bening itu keluar, rasanya menenangkan. Bagiku menangis adalah cara terbaik saat kata-kata sudah tak mampu lagi aku keluarkan, namun itu berlanjut cukup lama hingga akhirnya sesak yang berganti. Sesak sekali. Jangan tanya siapa penyebab aku menangis, tentu saja dirimu.

Aku, apa pernah menuntut perasaan yang hebat yang sama dengan perasaanku kepadamu? Tidak bukan. Aku tidak pernah memaksamu untuk menjadikanku rumah bagimu saat kamu ingin pulang dari petualangamu. Aku juga tidak pernah memintamu untuk menghiburku, mengahapus air mataku ketika semua penyebab tangisku adalah dirimu. Karna memang itulah kamu, tak memperdulikan apapun kecuali kamu dan hatimu. Aku selalu membebaskanmu, merelakan kemanapun pergimu. Aku tidak ingin melarangmu karna kamu adalah pemilik dirimu sendiri. Namun apa tidak bisa sekali saja kamu hargai usahaku?

Ada orang yang lebih menyukai dirimu dibanding dirinya sendiri, ada orang yang rela menyampingkan egonya hanya untukmu, ada orang yang rela menunggumu dibalik rindu-rindu yang kau perduli saja tidak, itu semua apa kau tidak bisa menyadarinya? Apa mungkin kau memang seperti itu, tidak pernah perduli dengan siapapun kecuali duniamu sendiri?

Jika memang pada akhirnya kau tidak akan memperdulikanku, kenapa harus sejauh ini? Tolong, berhenti membuatku bingung, berhenti membuatku jatuh terlalu dalam, berhenti melakukan hal manis yang pada akhirnya hanya aku yang akan merindukannya, berhenti membuat hatiku tidak tentu hanya karna semua sikapmu. Aku ingin meluruskan perasaanku sendiri. Aku tidak ingin salah paham dengan semua sikapmu kepadaku selama ini.

Selama ini, ternyata memang hanya aku yang selalu banyak bergerak, aku yang mencoba menggenggam tanganmu tanpa pernah kau genggam kembali, aku yang menarikmu berlari sekalipun kamu tidak pernah mengajaku berjalan. Aku yang mencoba membuatmu bahagia walau pada akhirnya kau bahagia dengan caramu sendiri, tanpa aku. Selalu hanya aku, sejak pertama kali kita bertemu.

Seharusnya dari awal aku sadar, bahwa tangan yang kucoba genggam tidak ingin menggenggam tanganku kembali, harusnya aku sadar bahwa aku telah salah menjatuhkan hatiku kepadamu, harusnya aku sadar bahwa kamu memang tidak pernah membukakanku pintu dan membiarkan aku masuk dikehidupanmu, harusnya aku sadar dibalik rindu yang selalu aku nanti tidak pernah benar-benar berasal darimu, harusnya aku sadar semua itu, sejak awal.

Kita memang tidak pernah berjalan berdampingan, tapi kamu tidak perlu khawatir, aku tidak pernah menyeseli semua itu, aku selalu mensyukuri setiap pertemuan kita. Terima kasih telah memperkenalkanku apa itu rasa, rindu, menunggu, dan melepas.

Komentar