Hari itu, aku merasa bahwa aku semakin jatuh, sejatuh-jatuhnya. Rasa ini bukan lagi suka namun sudah naik tahap menjadi sayang. Entah apa yang telah dia lakukan, tapi aku merasa bahwa aku semakin jatuh kepadanya. Saat bersama dia aku tak pernah berpikir bahwa aku akan merasakan sakit, aku selalu berpikir bahwa masa dimana aku menghabiskan waktu bersama dia, tertawa bersama dia, itu akan terulang setiap harinya.
Namun pikiranku salah, salah besar. Saat ini dia bukan lagi dia, dia seperti asing bagiku. Dia yang pernah aku kenal dulu sudah tidak ada, entah kemana perginya. Saat ini aku tidak lagi mengenal dia sama sekali. Lalu kemana perginya dia yang dulu aku kenal? Aku sendiri tidak tahu.
Saat ini kita seperti orang asing, benar-benar asing. Jangankan untuk menceritakan banyak hal seperti dulu, menegur sapapun sudah tidak ada lagi. Aku pernah berpikir untuk bertanya, tapi aku tidak punya keberanian untuk melakukannya sampai akhirnya muncul beberapa pikiran tentang dia.
Apa sudah ada yang membuat dia nyaman lebih dari pada aku? Apa dia sudah menemukan orang yang lebih menyenangkan dibanding aku? Apa semua yang kita lakukan kemarin tidak mempunyai arti sama sekali? Apa aku hanya sebuah tempat singgah baginya? Entahlah semua pikiran itu muncul begitu saja.
Jika sudah seperti ini, mau menyalahkan siapa? tidak ada bukan. Saat ini mungkin aku hanya perlu terbiasa, terbiasa tanpa dia. Sakit memang karna hanya aku yang beranggapan bahwa apa yang telah kita lakukan bersama mempunya arti lebih.
Mungkin kemarin hanya aku yang terlalu berlebihan, menganggap semuanya tidak akan berujung seperti ini. Mungkin kemarin hanya aku yang terlalu perasa, merasa bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama sepertiku padahal tidak.Ya, hanya aku yang beranggapan seperti itu.
Kini kita sudah benar-benar jauh. Memilih jalan sendiri-sendiri. Memilih untuk tidak saling menyapa saat bertemu. Memilih untuk seperti orang asing. Aku hanya berharap, perasaan ini akan hilang bersamaan dengan kepergian dia. Ya, semoga saja.
Namun pikiranku salah, salah besar. Saat ini dia bukan lagi dia, dia seperti asing bagiku. Dia yang pernah aku kenal dulu sudah tidak ada, entah kemana perginya. Saat ini aku tidak lagi mengenal dia sama sekali. Lalu kemana perginya dia yang dulu aku kenal? Aku sendiri tidak tahu.
Saat ini kita seperti orang asing, benar-benar asing. Jangankan untuk menceritakan banyak hal seperti dulu, menegur sapapun sudah tidak ada lagi. Aku pernah berpikir untuk bertanya, tapi aku tidak punya keberanian untuk melakukannya sampai akhirnya muncul beberapa pikiran tentang dia.
Apa sudah ada yang membuat dia nyaman lebih dari pada aku? Apa dia sudah menemukan orang yang lebih menyenangkan dibanding aku? Apa semua yang kita lakukan kemarin tidak mempunyai arti sama sekali? Apa aku hanya sebuah tempat singgah baginya? Entahlah semua pikiran itu muncul begitu saja.
Jika sudah seperti ini, mau menyalahkan siapa? tidak ada bukan. Saat ini mungkin aku hanya perlu terbiasa, terbiasa tanpa dia. Sakit memang karna hanya aku yang beranggapan bahwa apa yang telah kita lakukan bersama mempunya arti lebih.
Mungkin kemarin hanya aku yang terlalu berlebihan, menganggap semuanya tidak akan berujung seperti ini. Mungkin kemarin hanya aku yang terlalu perasa, merasa bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama sepertiku padahal tidak.Ya, hanya aku yang beranggapan seperti itu.
Kini kita sudah benar-benar jauh. Memilih jalan sendiri-sendiri. Memilih untuk tidak saling menyapa saat bertemu. Memilih untuk seperti orang asing. Aku hanya berharap, perasaan ini akan hilang bersamaan dengan kepergian dia. Ya, semoga saja.
Komentar
Posting Komentar